Muharram dan Momentum Hijrah

 2017-09-21 19:34


Muharram dan Momentum Hijrah

Betapa indahnya Islam mengajarkan ketundukan dan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Selain Allah, semuanya itu fana. Di bulan Dzul hijjah, salah satu bulan mulia dalam kalender Islam, kita dididik Allah melalui kisah Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS masing-masing adalah sosok ayah dan anak yang sempurna. Ketundukan dan ketaatan Ibrahim pada perintah dan ajaran-ajaran Allah merupakan bukti cintanya kepada Allah. Demikian juga dengan sosok putranya, Ismail AS, ia putra Shalih yang taat pada perintah Allah, beliau hidup dengan ketawakkalan dan kecerdasan. Begitu juga sang bunda, Siti Hajar yang mengajarkan arti ketawakkalan dan kewajiban ikhtiar dalam hidup. Mereka semua adalah sosok sempurna sebagai sebuah keluarga.

Dalam perhitungan tahun baru Hijriyah, diawali dengan bulan Muharram yang dikenal oleh orang Jawa dengan sebutan bulan Suro. Dalam Islam bulan Muharram merupakan salah satu bulan di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Tiga bulan berurutan yaitu Dzul qa’dah, Dzul hijjah, lalu Muharram serta satu yang terpisah yaitu bulan Rajab. Ini merupakan bulan-bulan diagungkan, baik pada masa jahiliyyah ataupun pada masa Islam, Allah mengkhususkan larangan berbuat zalim dibulan-bulan tersebut. Hal ini didasarkan pada ayat “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. 9 : 36).

Bulan Muharram memiliki banyak keistimewaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan. Dan jika bermaksiat di bulan ini dosanya pun dilipatgandakan. Dalam sebuah hadis kita dapat melihat bahwa ternyata tanggal 10 Muharram merupakan tanggal yang istimewa dalam sejarah kenabian. Dijelaskan tatkala Nabi SAW datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa AS berpuasa pada hari ini. Nabi SAW bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari).

Kemudian Rasulullah SAW menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.

Manusia dengan potensi khalifah yang disandangnya, dituntut cerdas mentadabburi al-Qur’an dan mengikuti figur sentral Nabiyullah Muhammad SAW dalam setiap gerak dan langkah dalam hidup. Di momen bulan Muharram ini, sebagai umat Muhammad SAW, sebaiknya kita memperbanyak amal shalih dan menjauhi perbuatan dosa dan nista. Melatih diri untuk memahami hikmah-hikmah di balik semua perintah Allah. Sebab, semua perintah Allah pastilah mengandung kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Di bulan pertama Hijriyah ini, kita membulatkan tekad untuk menjadi generasi yang berani “Hijrah” dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Sekaligus selalu mengaktifkan kembali radar iman takwa kita kepada Allah. Salah satu perintah agar kita selalu terhubung dan dapat berkomunikasi dengan Allah adalah shalat. 

Mungkin saja kita sudah aktif melaksanakan shalat, tapi kadang-kadang belum terpelihara dengan baik. Cermatilah diri kita sendiri, sudahkah kita memelihara syarat, rukun, waktu, bacaan, gerakan dan ruh shalat serta thuma’ninah agar shalat kita diterima Allah? Maka inilah saat yang tepat bagi kita untuk muhasabah, agar shalat kita tidak hanya menjadi ritual semata.

Selain itu, di bulan ini kita berjanji pada diri sendiri untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak berguna. Pancaran hati yang bercahaya dengan nur Allah, menurut para Sufi, merupakan hasil dari olah batin zuhud dan riyadhoh yang dilakukan hamba Allah. Dengan demikian, membersihkan hati merupakan kewajiban yang setiap hari harus kita lakukan. Sebab, mungkin saja selama ini kita telah mengotorinya setiap hari dengan perbuatan yang tidak manfaat.

 Kita juga harus memelihara silaturahim dan berhati-hati dalam berucap bertutur sapa, sebab Nabi telah bersabda: “Orang muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang muslim lain baik dengan lidah maupun tangannya, dan orang yang hijrah itu adalah orang yang hijrah meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim). Pada momen yang baik ini kita sebaiknya selalu niatkan segala ucapan dan perbuatan kita dengan totalitas. Yaitu totalitas dalam menggapai ridha Allah dengan melakukan sebaik-baiknya perintah Allah dengan penuh keikhlasan. Wallahua’lam bissawab. (Ustadzah Hj. Rahmah Maulidia, M.Ag)