Menelaah Keistimewaan Bahasa Arab

 2017-07-23 15:51


Menelaah Keistimewaan Bahasa Arab

Bahasa merupakan identitas dari sebuah bangsa dan peradaban. Semakin kompleks sebuah bahasa, menunjukkan akan tingginya sebuah peradaban. Cerminan ini juga dapat kita lihat dari berbagai hal lainnya, seperti karya seni arsitektur dan lukisan.

Telah terjadi di beberapa Negara yang kehilangan identitasnya karena kehilangan bahasanya. Mari sejenak kita lihat negeri Al-Jazair yang dulu menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama. Kini pasca dijajah oleh Prancis, negara tersebut mengubah bahasa resmi negaranya menjadi bahasa Prancis. Dengan demikian, sedikit demi sedikit kebudayaannya setempat menjadi tergerus dan didiominasi oleh kebudayaan bahasa yang berkembang. Karena dalam bahasa mengandung makna yang dipengaruhi oleh cara pandang.

Di antara bahasa “superior” yang ada di muka bumi ini adalah Bahasa Arab. Bahasa yang memiliki keterkaitan erat dengan agama Islam ini telah digunakan Allah SWT untuk “menyapa” seluruh umat manusia dari berbagai negara yang memiliki bahasa yang berbeda. Fakta ini menunjukkan bahwa bahasa Arab menyimpan keistimewaan khusus yang sangat menarik untuk kita bahas. Setidaknya ada 3 keistimewaan yang terkandung dalam bahasa Arab, yaitu:

Pertama, Bahasa Tertua

Rumpun Bahasa Semit atau Semit Linguistic Families merupakan sekelompok bahasa yang dituturkan oleh lebih dari 200 juta jiwa di daerah Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika Timur. Rumpun ini merupakan cabang dari rumpun timur laut bahasa Afro-Asia dan merupakan satu-satunya cabang yang juga digunakan di Asia. Ia juga merupakan rumpun bahasa yang yang sudah dituliskan dengan bahasa Akkadia pada awal millenium ketiga SM.

Kata Semit berasal dari bahasa Latin Semita atau Shem, yang berarti Sam/Sem/Syam. Sam adalah salah satu dari 3 anak Nabi Nuh Alahi as-Salam. Kata Semit mulai digunakan sebagai nama rumpun bahasa sejak tahun 1813.

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa Semit yang paling banyak digunakan, yaitu oleh 206 juta jiwa, selanjutnya bahasa Amhar (27 juta), bahasa Ibrani (7 juta), dan bahasa Tigrinya (6,8 juta). Bahasa lain yang berkembang di daerah jazirah Arab adalah bahasa Akkadia atau Babilonia, Asiria, Aramaik, Syiria, Madain, Nabaten, Samaritan, Yahudi, Palmira, Polinesia, Yahudi Injil (Biblical Hebrew), Arab,  Sabak atau Himyar. Selain itu bahasa Arab juga menduduki peringkat kelima bahasa tertua di dunia.

Namun demikian, terdapat pendapat lain tentang posisi “senioritas” bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa lainnya. Kelompok ini menyatakan bahwa bahwa bahasa Arab merupakan bahasa tertua dan telah ada sejak Nabi Adam Alaihi as-Salam berlandaskan pada firman Allah di Surat Al-Baqoroh ayat 31 yang artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malaikat, lalu berfirman: “sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar”. Dengan demikian, kelompok ini menyatakan bahwa bahasa Arab bukanlah termasuk rumpun dari bahasa Semit.

Terlepas dari persoalan pendapat mana yang paling kuat di antara keduanya, telah terbukti bahwa bahasa Arab memiliki posisi yang lebih senior dari pada bahasa lainnya dan mampu bertahan hingga saat ini meski pernah mengalami pasang surut kejayaan. Bahasa-bahasa lain yang seusia dengan bahasa Arab pada umumnya sudah mati.

Kini bahasa Arab digunakan oleh lebih dari 24 Negara yang tergabung dalam Liga  Arab di Asia Barat dan Afrika Utara sebagai bahasa Ibu (vernacular languge). Bahkan bahasa Arab memberikan pengaruh luas terhadap bahasa lainnya seperti Persia, Turki, Urdu, Melayu, dan Indonesia.

Kedua, Kaya akan Kosa kata

Dalam buku Al-Lughah Al-'Arabiyyah AtTahaaddiyaat wa Al-Muwajahah dijelaskan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat kaya akan perbendaharaan kata. Bahasa Arab memiliki kurang lebih 12.305.412 bentuk kalimat dan 6.699.400 buah kata. Jumlah ini tentu sangat banyak dibanding dengan bahasa Inggris yang hanya memiliki kurang lebih 100.000 buah kata, dan bahasa Prancis  dengan 25.000) buah kata yang dimilikinya.

Al-Imam Ibnu Faris dalam bukunya Ash-Shahibi fi Fiqh Al-Lughah Al-'Arabiyyah menyatakan bahwa, "Di antara hal yang tidak mungkin dinukil seluruhnya adalah sinonim dari kata pedang, singa, tombak dan kata-kata lain semisal. Telah diketahui bahwa bahasa selain bahasa Arab tidak memiliki nama lain untuk singa kecuali hanya satu nama. Adapun kita (orang Arab) memiliki kurang lebih 150 nama untuk singa. Bahkan Ahmad bin Muhammad bin Bundar telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: "Aku mendengar Abu Abdillah bin Khalawaih Al-Hamadzani mengatakan, saya telah berhasil mengumpulkan 500 nama untuk singa dan 200 nama untuk ular."

Banyaknya perbendaharaan kata yang dimiliki oleh bahasa Arab tidak terlepas dari kejayaan Islam pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW hingga bani Abbasiyah. Perkembangan keilmuan sains dan humaniora menjadikan bahasa Arab semakin bisa beradaptasi dengan istilah baru dalam berbagai rumpun keilmuan. Hal itu berlanjut hingga diserapnya istilah-istilah tersebut ke dalam bahasa lain seperti bahasa melayu, turki, Indonesia, dsb karena bahasa-bahasa tersebut belum memiliki kosa kata yang mengandung makna yang tepat.

Maka tidak berlebihan jika Imam Syafi'I rahimahullah menyatakan bahwa “Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas dan paling kaya dengan kosakata.” (Ar-Risalah).

Selain kekayaan kosa kata, bahasa Arab juga memiliki pola pergantian kata yang dikenal dengan istilah tashrif. Hal ini memungkinkan satu kata pada bahasa Arab dapat berubah menjadi lebih dari 10 kata dengan makna yang berbeda pula.

Ketiga, Bahasa Al-Qur’an

Berdasarkan konten dan kualitasnya, bahasa Arab telah menempati posisi yang sangat istimewa sebagaimana dijelaskan pada poin pertama dan kedua. Kedua keistimewaan tersebut kemudian ditambah dengan “penghargaan” Allah SWT kepada bahasa Arab sehingga menjadikannya semakin berkualitas, yaitu dengan menurunkan kitab Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab.

Hal ini setidaknya membawa 3 manfaat bagi bahasa Arab, pertama, kosa kata bahasa Arab menjadi lebih kaya karena mendapat suplai kosa kata baru dari al-Qur’an. Kedua, menjadikan bahasa Arab terkesan sebagai bahasa “suci” dan memiliki sakralitas yang tinggi dibandingkan dengan bahasa lainnya. Ketiga, menjamin keabadian bahasa Arab karena Allah SWT memberikan jaminan akan menjaga Al-Qur’an. Dengan demikian, seberapa lama usia al-Qur’an bertahan di dunia, selama itu pula bahasa Arab akan ada di muka bumi. Wallahu a’lam bi ash-showab. (Amir Dardiri)